MAKNA RELIGIUSITAS PEMENTASAN TARI BARIS KUPU-KUPU DALAM SISTEM RELIGI UMAT HINDU DI BALI PEGUNUNGAN

  • Komang Indra Wirawan Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstract

Penelitian ini menjelaskan secara diskriptif tentang aspek religiusitas pementasan Tari Baris Kupu-Kupu dalam sistem religi umat Hindu di Bali Pegunungan. Pementasan Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan tepat pada saat upacara Pujawali oleh masyarakat Bali Pegunungan. Warga Hindu pada masyarakat Bali Pegunungan meyakini tari sakral Baris Kupu-Kupu adalah tarian wali warisan leluhur. Pementasannya selalu berhubungan dengan kehidupan warga sekitar sebagai masyarakat agraris. Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan untuk mengungkapkan rasa terimakasih warga kepada leluhur, dan para dewa yang telah memberikan anugrah berupa kesuburan. Selain itu, pementasan Tari Baris Kupu-Kupu juga berhubungan dengan kepercayaan warga terhadap hal-hal yang berkaitan dengan katarsisme (penyucian). Jadi warga sangat berkeyakinan, ketika Tari Baris Kupu-Kupu dipentaskan dalam ruang sakral, secara tidak langsung dapat menyucikan makrokosmos (Bhuwana Agung) dan mikrokosmos (Bhuwana Alit).


 


This study describes descriptively about aspects of religiosity staging Tari Baris Kupu-Kupu in the religious system of Hindus in Bali Mountains. The performance of the Baris Kupu Dance is performed right at the Pujawali ceremony by the Balinese Mountain people. Hindus in the Balinese people Mountains believe the Baris Kupu-Kupu sacred dance is the guardian dance of the ancestors. The performance is always related to the lives of local people as an agrarian society. Tari Baris Kupu-Kupu is performed to express people's gratitude to their ancestors, and the gods who have given gifts in the form of fertility. In addition, the performance of the Tari Baris Kupu-Kupu is also related to people's trust in things related to catharsis (sanctification). So people are very confident, when the Tari Baris Kupu is staged in a sacred space, it can indirectly purify the macrocosm (Bhuwana Agung) and microcosm (Bhuwana Alit).

References

Adiputra. I Nyoman Arjana. 2015. Pementasan Tari Baris Mamedi dalam Upacara Ngaben di Kecamatan Penebel Kabupaten Buleleng. Tesis: IHDN Denpasar.
Ali H, Muhammad. 1992. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Bayu.

Ardana. 2000. Pura Kahyangan Tiga. Pemprop Bali.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian. Edisi Revisi 5. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Arikunto Suharsini, 2006. Prosedur Penelitian Sutau Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Aryasa, I Wayan Madra. 1996. Seni Sakral. Jakarta: Direktorat Jendral Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha.

Atmaja, I Gusti Ngurah Made Arya Putra. 2008. Nilai Pendidikan Agama Hindu dalam Pementasan Tari Ngigel Desa Pada Upacara Ngusaba Desa Sarin Tahun di Desa Padangbulia Kecamatan Sukasada Buleleng.

Azwar, Saifuddin. 1999. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Bandem, I Made. 1996. Tari Bali. Yogyakarta: Kanisius.

Bungin, Burhan. 2001. Metodologi Penelitian Sosial, Format-format Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press
Depdikbud. 1994. Kurikulum Pendidikan Agama Hindu Sekolah Menengang. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Dibia, I Wayan. 1999. Seni Diantara Tradisi dan Moderenisasi. Denpasar: Institut Seni Indonesia.

Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta:Rineka Cipta.

Djelantik, A.A.M. 1992. Pengantar Dasar Ilmu Estetika Jilid II Falsafah Keindahan dan Kesenian. Denpasar: STSI Denpasar.

Gay, Liang.2001.Garis Besar Estetik (Filsafat Keindahan). Yogyakarta: Karya.

Geriya, I Wayan, 2008. Transformasi Kebudayaan Bali: Memasuki Abad XXI. Surabaya: Paramita.

Golu, W. 2002. Metodelogi Penelitian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Granoka, Ida wayan, 1997. Memori Bajra sandhi – Perburuan Ke Prana Jiwa, Denpasar: Sanggar Bajra sandhi.

Iqbal, Hasan. 2002. Metodologi Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Jaman, I Gede, 2006. Tri Hita Karana: Dalam Konsep Hindu, Denpasar: PustakaBali Post.

Juliari Putu Ayu Dewa, 2007. Profesionalisme Guru Dalam Pembelajaran. Insan, Cendikia, Surabaya.

Kadjeng. I Nyoman. 2003. Sarasamuscaya. Surabaya: Paramita.

Koentjaraningrat.1980. Beberapa Pokok Antropologi Sosial. Jakarta:Dian Rakyat.

Koentjaraningrat. 1982. Antropologi I. Jakarta: Djambatan.

Koentjaraningrat. 1987. Sejarah Teori Antropologi I. Jakarta. Universitas Indonesia Pers.

Koentjaraningrat. 1997. Pengantar Antropologi Pokok-Pokok Etnografi II. Jakarta Rineka Cipta.
Published
2019-06-10
How to Cite
WIRAWAN, Komang Indra. MAKNA RELIGIUSITAS PEMENTASAN TARI BARIS KUPU-KUPU DALAM SISTEM RELIGI UMAT HINDU DI BALI PEGUNUNGAN. Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni, [S.l.], v. 7, n. 2, p. 174-191, june 2019. ISSN 2621-3338. Available at: <https://ojs.ikippgribali.ac.id/index.php/stilistika/article/view/282>. Date accessed: 22 aug. 2019.