POLA HIDUP KONSUMTIF SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN SENI PATUNG MINIMALIS

  • I Nyoman Putrayasa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni, IKIP PGRI Bali

Abstract

Gaya hidup konsumtif, paraktis, dan pragmatis merupakan fenomena yang terjadi pada sebagaian masyarakat Hindu di Bali saat ini. Bagi sebagian besar masyarakat Bali kini telah menjadikan uang sebagai sesuatu hal yang sangat penting di atas segalanya. Tak sedikit masalah yang juga diselesaikan dengan uang. Berkembangnya pola pikir pragmatis, praktis, dan ekonomis yang dimiliki sebagian umat Hindu di Bali, menyebabkan tidak jarang suatu bentuk upacara yadnya dapat dipesan atau dikemas dalam sistem paket. Berdasarkan hal tersebut penulis terinspirasi untuk mengangkat pola hidup konsumtif sebagai sumber ide dalam penciptaan seni patung. Ganesha dipilih sebagai perwujudan dari ide tersebut. Figur Ganesha memiliki keunikan dari segi bentuk. Bentuk yang unik sangat leluasa dan bebas dieksplorasi sebagai ide penciptaan karya seni patung minimalis.  Proses perwujudan dilakukan dengan tiga tahap yaitu Eksplorasi atau pengumpulan data, eksperimen atau pengolahan data dan pembentukan. Melalui deformasi bentuk dalam perwujudan karya bertujuan mewujudkan karya seni patung minimalis sebagai media penyampaian pesan terhadap pola hidup konsumtif yang terjadi pada sebagian masyarakat Hindu di Bali.


 


Consumptive, practical and pragmatic lifestyles are phenomena that occur in the Hindu community in Bali nowadays.  For most Balinese people now has made money as something very important above all.  Not a few problems are also solved with money.  The development of a pragmatic, practical, and economic mindset that is owned by some Hindus in Bali, causes not infrequently a form of ceremony that can be ordered or packaged in a package system.  Based on this, the author was inspired to raise the consumptive lifestyle as a source of ideas in the creation of sculpture.  Ganesha was chosen as the embodiment of the idea.  The figure of Ganesha is unique in terms of form.  The unique shape is very free and freely explored as the idea of creating minimalist sculpture.  The process of embodiment is carried out in three stages, namely exploration or data collection, experimentation or data processing and formation.  Through the deformation of forms in the embodiment of the work aimed at realizing minimalist sculpture works as a medium for delivering messages to the consumptive lifestyle that occurs in some Hindu societies in Bali.

References

Damanjanti, Irma. Psikologi Seni. Bandung: PT Kiblat Buku Utama, 2006.

Gie, The Liang. Filsafat Seni Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Pusat Belajar Ilmu Berguna, 1996.

Kartika, Darsono Sony. Pengantar Estetika. Bandung: Rekayasa Sain, 2004.
Kartika, Darsono Sony. Seni Rupa Modern. Bandung: Rekayasa Sain, 2004.

Marianto. M. Dwi. Menempa Quanta Mengurai Seni. Yogyakarta: Badan Penerbit ISI Yogyakarta, 2011.

Shaman, Humar. Mengenali Dunia Seni Rupa tentang Seni, Karya Seni, Aktivitas Kreatif, Apresiasi, Kritik dan Estetika. Semarang: IKIP Semarang Press, 1993.

Soedarso, Sp. Sejarah Perkembangan Seni Rupa Modern. Yogyakarta: CV Studio Delapan Puluh Enterprise Jakarta bekerja sama dengan Badan Penerbit ISI Yogyakarta, 2000.

Sumarjo, Jakob. Filsafat Seni. Bandung: Penerbit ITB, 2000.

Susanto, Mikke. Diksi Rupa. Yogyakarta: Penerbit Dicti Art Lab Yogyakarta dan Jagat Art Space Bali, 2011.

Widana, I Gusti Ketut. Menyoroti Etika Umat Hindu. Denpasar: Pustaka Bali Pos, 2011.
Published
2019-06-10
How to Cite
PUTRAYASA, I Nyoman. POLA HIDUP KONSUMTIF SEBAGAI SUMBER IDE PENCIPTAAN SENI PATUNG MINIMALIS. Stilistika : Jurnal Pendidikan Bahasa dan Seni, [S.l.], v. 7, n. 2, p. 226-239, june 2019. ISSN 2621-3338. Available at: <https://ojs.ikippgribali.ac.id/index.php/stilistika/article/view/285>. Date accessed: 22 aug. 2019.